Kalkulator Gaji Kotor
Gunakan kalkulator gaji kotor ini untuk memperkirakan berapa gaji kotor (bruto) yang Anda butuhkan agar take-home pay mencapai jumlah tertentu, setelah potongan PPh 21 dan BPJS.
Bagaimana cara menghitung gaji kotor dari target gaji bersih?
Kadang yang Anda ketahui bukan gaji kotor, melainkan angka take-home pay yang ingin dicapai — misalnya saat negosiasi gaji dengan calon perusahaan, atau saat menyusun anggaran dan Anda perlu tahu berapa gaji kotor yang harus diminta agar uang yang benar-benar diterima setiap bulan mencukupi. Kalkulator ini bekerja terbalik dari Kalkulator Gaji Bersih: Anda memasukkan target gaji bersih, dan sistem mencari gaji kotor yang menghasilkan angka tersebut setelah potongan BPJS dan PPh 21.
Mengapa perlu pendekatan numerik?
Gaji bersih tidak bisa dibalik ke gaji kotor dengan rumus aljabar sederhana, karena PPh 21 dihitung progresif berlapis-lapis — setiap lapisan PKP punya tarif berbeda, dan tarif itu sendiri bergantung pada besar PKP yang justru ingin kita cari. Untuk mengatasi ini, kalkulator menggunakan pencarian biner (binary search): dicoba berbagai nilai gaji kotor, dihitung gaji bersihnya menggunakan rumus yang sama seperti Kalkulator Gaji Bersih, lalu nilai tersebut disesuaikan berulang kali hingga gaji bersih hasil hitungan sangat dekat dengan target Anda (selisih biasanya di bawah Rp 5).
Rumus (per iterasi pencarian)
Untuk suatu gaji kotor bulanan:
Potongan BPJS Kesehatan = 1% × min(gaji kotor, Rp 12.000.000) (jika diikutkan)
Potongan BPJS Ketenagakerjaan = 2% × gaji kotor (jika diikutkan)
Biaya jabatan = min(5% × gaji kotor, Rp 500.000)
Penghasilan neto tahunan = (gaji kotor − total potongan) × 12
PKP = penghasilan neto tahunan − PTKP (sesuai status)
PPh 21 bulanan = PPh 21 progresif tahunan atas PKP ÷ 12
Gaji bersih = gaji kotor − total potongan − PPh 21 bulanan
Kalkulator mencoba nilai gaji kotor secara berulang (hingga 100 kali iterasi pencarian biner) sampai “Gaji bersih” hasil hitungan di atas sedekat mungkin dengan target yang Anda masukkan.
Contoh perhitungan
Seorang calon karyawan lajang tanpa tanggungan (TK/0) menargetkan gaji bersih Rp 8.000.000 per bulan, dan berencana mengikuti BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan:
Target gaji bersih = Rp 8.000.000
Hasil pencarian: estimasi gaji kotor = Rp 8.895.881
Verifikasi (memasukkan kembali Rp 8.895.881 ke rumus gaji bersih):
Gaji bersih yang dihasilkan ≈ Rp 7.999.999 – Rp 8.000.000 (selisih hanya beberapa rupiah)
Artinya, untuk mendapatkan take-home pay Rp 8.000.000, calon karyawan tersebut perlu meminta gaji kotor sekitar Rp 8.895.881 — bukan Rp 8.000.000, karena masih ada potongan BPJS dan PPh 21 di antara keduanya.
Asumsi dan keterbatasan
- Hasil merupakan estimasi numerik, bukan solusi aljabar tertutup. Selisih antara gaji bersih hasil verifikasi dan target biasanya sangat kecil (dalam kisaran ribuan rupiah ke bawah), tetapi tetap bukan angka pasti hingga sen terakhir.
- Menggunakan metode dan komponen potongan yang persis sama dengan Kalkulator Gaji Bersih (BPJS Kesehatan 1%, BPJS Ketenagakerjaan 2%, biaya jabatan, dan PPh 21 progresif tahunan), sehingga kedua kalkulator ini konsisten satu sama lain — cek hasilnya di Kalkulator Gaji Bersih untuk memverifikasi.
- Tidak memperhitungkan komponen lain di luar itu, seperti tunjangan tidak tetap, lembur, atau potongan pinjaman karyawan.
- Cocok digunakan untuk perencanaan dan negosiasi, bukan sebagai dasar kontrak kerja resmi.
Pertanyaan Umum
Apa bedanya kalkulator ini dengan Kalkulator Gaji Bersih?
Kalkulator Gaji Bersih menghitung take-home pay dari gaji kotor yang sudah diketahui. Kalkulator ini bekerja terbalik: dari target take-home pay yang Anda inginkan, dihitung perkiraan gaji kotor yang dibutuhkan.
Mengapa hasilnya berupa perkiraan, bukan angka pasti?
Karena perhitungan PPh 21 bersifat progresif dan tidak linear, kalkulator ini mencari nilai gaji kotor yang paling mendekati target Anda melalui pendekatan numerik. Selisihnya biasanya sangat kecil (dalam kisaran ribuan rupiah).