Kalkulator Debt to Income Ratio
Gunakan kalkulator debt to income ratio (DTI) ini untuk mengetahui seberapa besar porsi pendapatan bulanan Anda yang terpakai untuk membayar cicilan utang.
Bagaimana cara menghitung debt to income ratio (DTI)?
Debt to income ratio (DTI) mengukur seberapa besar porsi pendapatan bulanan Anda yang terpakai untuk membayar cicilan utang. Rasio ini banyak dipakai bank dan lembaga keuangan untuk menilai kelayakan pengajuan kredit baru, tapi juga berguna sebagai alat evaluasi pribadi untuk mengetahui apakah beban cicilan yang ditanggung sudah terlalu besar relatif terhadap penghasilan.
Rumus DTI
DTI (%) = (Total Cicilan Bulanan ÷ Pendapatan Bulanan) × 100
Cicilan yang dihitung umumnya mencakup seluruh cicilan utang rutin bulanan: KPR, kredit kendaraan, kartu kredit, KTA, dan pinjaman lainnya. Tagihan rutin non-utang seperti listrik, internet, atau biaya langganan biasanya tidak termasuk dalam perhitungan DTI.
Contoh perhitungan
Seseorang berpenghasilan Rp15.000.000 per bulan dengan total cicilan KPR dan kartu kredit sebesar Rp2.000.000 per bulan:
DTI = (Rp2.000.000 ÷ Rp15.000.000) × 100 = 13,33%
Dengan DTI 13,33%, kondisi keuangannya tergolong sehat karena masih jauh di bawah ambang 20%. Sebagai perbandingan, jika cicilannya naik menjadi Rp6.000.000 per bulan, DTI-nya menjadi 40% — masuk kategori berisiko karena porsi pendapatan untuk cicilan sudah sangat besar.
Kategori DTI
| Rentang DTI | Kategori |
|---|---|
| Di bawah 20% | Sehat |
| 20% sampai di bawah 36% | Waspada |
| 36% ke atas | Berisiko |
Panduan ini adalah ambang umum yang sering dikutip lembaga keuangan, bukan aturan baku yang berlaku sama di semua bank atau situasi pribadi.
Interpretasi hasil
Semakin rendah DTI, semakin besar ruang gerak keuangan yang tersisa setelah membayar cicilan — untuk tabungan, dana darurat, atau pengajuan pinjaman baru. DTI yang tinggi membuat pengajuan kredit baru (seperti KPR) lebih sulit disetujui, dan juga membuat rumah tangga lebih rentan terhadap guncangan finansial seperti kehilangan pekerjaan atau kenaikan suku bunga cicilan.
Asumsi dan keterbatasan
- Kalkulator ini hanya menghitung DTI berbasis cicilan utang, tidak termasuk pengeluaran rutin non-utang seperti sewa, biaya hidup, atau tagihan bulanan lainnya.
- Ambang batas kategori (20% dan 36%) adalah panduan umum industri keuangan, bukan standar resmi yang seragam. Setiap bank atau lembaga pembiayaan bisa memiliki kebijakan DTI maksimal yang berbeda-beda untuk persetujuan kredit.
- Pastikan angka pendapatan bulanan yang dimasukkan adalah pendapatan bersih (setelah pajak) atau kotor secara konsisten, sesuai basis yang biasa dipakai lembaga keuangan yang Anda tuju.
Pertanyaan Umum
Berapa DTI yang dianggap sehat?
Panduan umum yang sering dikutip lembaga keuangan: DTI di bawah 20% dianggap sehat, 20-36% masih dapat dikelola dengan hati-hati, dan di atas 36% dianggap berisiko tinggi karena porsi pendapatan untuk utang sudah sangat besar. Ini adalah panduan umum, bukan aturan baku.
Cicilan apa saja yang dihitung dalam DTI?
Umumnya mencakup seluruh cicilan utang rutin bulanan: KPR, kredit kendaraan, kartu kredit, KTA, dan pinjaman lainnya. Tagihan rutin non-utang seperti listrik atau internet biasanya tidak termasuk.